Ullen Sentalu The Experiencing Museum

Jalan Masuk Museum Ullen Sentalu

Pertama kali saya mendengar namanya, saya tidak membayangkan bahwa saya akan melihat (sekaligus merasakan) apa yang saya lihat di sana. Bayangan awal saya malah sebuah gedung tua yang dipenuhi dengan artefak-artefak berdebu yang kerap ditemukan di museum-museum di Indonesia. Benda-benda kuno disusun secara kaku dan saya harus berkeliling-keliling untuk memperhatikannya satu per satu.

Tapi ternyata, sekalai lagi TERNYATA, saya mendapatkan lebih dari apa yang saya bayangkan sebelumnya. Saya mendapatkan pengalaman yang juga tidak saya bayangkan saat saya melihat website-nya di internet. Akhirnya, saya jadi memahami apa yang dimaksud dalam profil Museum yang tertulis di website tersebut. Pengalaman memang tidak dapat sepenuhnya dapat dijelaskan dengan kata-kata.

Jadi, saya menyimpulkan bahwa Ullen Sentalu adalah museum yang harus dialami, dan tidak cukup dengan diceritakan atau difoto (yang kebetulan sekali dilakukan di sana). Experiencing Museum, itu istilah saya untuk Museum ini. Pertama kali saya menginjakkan kaki di areal Museum seluas 11.990 meter persegi ini, saya segera disambut dengan pemandangan hijau kaki Gunung Merapi dan aroma pegunungan yang juga tidak bisa saya jelaskan dalam tulisan ini. Dan semakin saya menjelajahi isinya, semakin saya kagum dengan keberadaan Museum ini.

Berbeda dengan Museum-museum lain yang dikelola oleh negara, Museum ini adalah Museum yang didirikan dan dikelola oleh pihak swasta yaitu Yayasan Ulating Blencong. Museum Ullen Sentalu mulai dirintis pada tahun 1994 dan diresmikan pada tanggal 1 Maret 1997, yang merupakan tanggal bersejarah bagi kota Yogyakarta. Peresmian museum dilakukan oleh KGPAA Paku Alam VIII, Gubernur DIY pada waktu itu. Secara kepemilikan, museum swasta ini diprakarsai keluarga Haryono dari Yogyakarta dengan penasehat yayasan antara lain: I.S.K.S. Paku Buwono XII, KGPAA Paku Alam VIII, GBPH Poeger, GRAy Siti Nurul Kusumawardhani, Ibu Hartini Soekarno, serta KP. dr. Samuel Wedyadiningrat, Sp.(B). K.(Onk).

Museum ini pada dasarnya terbagi menjadi 6 bagian yaitu Ruang Selamat Datang, Ruang Seni Tari dan Gamelan, Guwa Sela Giri, Kampung Kambang, Koridor Retja Landa, serta Ruang Budaya. Plus fasilitas-fasilitas lainnya yaitu Restoran Beukenhof, Taman Kaswargan (dimana bangunan Museum menjadi bagiannya), Djagad Gallery, Artshop dan sebagainya.

Banyak hal unik yang ada di Museum yang sajian utamanya tidak semata-mata artefak-artefak kuno, melainkan berbagai hal intangible yang menjadi bagian dari budaya Jawa antara lain ekspresi, pengetahuan, representasi, praktek dan ketrampilan. Dibanding artefak-artefak yang bersifat kebendaan, nilai-nilai budaya jawa yang intagible adalah bagian yang paling mudah punah atau hilang akibat ditinggalkan oleh pendukung budaya itu sendiri akibat kemajuan teknologi informasi dan globalisasi yang membuka keran westernisasi lebar-lebar. Untuk itulah Museum Ullen Sentalu ada. Untuk mengabadikan sebagian budaya Jawa secara holistik termasuk juga ritual, filosofi dan pemikiran-pemikirannya.

Keunikan Museum ini juga terletak pada bentuk arsitekturnya yang menyerupai labirin dengan display artefak dan memoribilia yang tidak diberikan penjelasan apapun. Jadi, kalau anda tidak mau tersasar dalam Museum ini dan ingin mempelajari keseluruhan isi Museum ini, pastikan anda didampingi oleh tour-guide yang memang disediakan oleh pengelola Museum Ullen Sentalu. Bangunannya sendiri bukanlah bangunan kuno, melainkan bangunan baru yang didisain sedemikian rupa untuk bisa merepresentasikan budaya Jawa. Seluruh layout bangunan dibuat mengikuti kontur tanah Gunung Merapi dan anda bisa menemukan ruang-ruang bawah tanah di tempat ini.

Museum ini memang tidak mengutamakan hal-hal yang tangible atau bersifat kebendaan melainkan mengutamakan penyampaian nilai-nilai yang terkandung dalam kebudayaan jawa. Hal ini karena memang dinasti Mataram lebih cenderung menghasilkan budaya yang sifatnya intangible dibanding berupa benda-benda. Sehingga museum ini tidak bersifat monument, melainkan movement. Saat ini, Ullen Sentalu semakin dikembangkan untuk menjadi living-museum dan bukan dead-museum.

Seluruh keunikan ini ditutup dengan keunikan yang lain. Selesai anda menjelajahi seluruh isi Museum ini, anda akan menerima sajian berupa minuman khas Ullen Sentalu. Minuman yang terasa manis gula jawa dengan aroma rempah menyegarkan ini adalah resep rahasia Gusti Kanjeng Ratoe Mas, putri Sultan HB VII yang disunting sebagai permaisuri Raja Surakarta, Sunan PB X. Konon, minuman ini memberi kesehatan dan awet muda.  Kapan lagi memuaskan pikiran dengan pengetahuan, memuaskan mata dengan pemandangan indah, dan memuaskan lidah dengan citarasa khas jawa. Dan yang utama, memuaskan batin dalam sebuah perjalanan menuju masa lalu dimana raja-raja jawa masih bertahta. Ullen Sentalu, The Experiencing Museum.

Minuman Khas Museum Ulen Sentalu

Advertisements

Gusti Nurul, Living Legend of Indonesian Woman Emancipation Movement

Wajah Gusti Nurul

Apa persamaan antara Adam Malik dengan Gusti Nurul? Keduanya diabadikan dalam Museum. Adam Malik dengan Museum Adam Malik-nya dan Gusti Nurul di Museum Ullen Sentalu.  Lantas, apa beda keduanya? Adam Malik telah wafat. Sedangkan Gusti Nurul masih hidup dan tinggal di Bandung.

Persamaan lain dari keduanya adalah mereka merupakan orang-orang yang banyak membawa perubahan positif pada bangsa Indonesia melalui tindakan-tindakan nyata yang mereka lakukan. Sayangnya, sosok Gusti Nurul bukanlah sosok yang cukup akrab di telinga orang Indonesia terutama anak mudanya. Padahal, keberanian Gusti Nurul untuk melakukan perubahan pada sistem patriarki khas jawa di jaman itu sangat patut dicontoh. Yaitu keberanian untuk mendobrak sistem agar bergerak ke arah yang positif. Gusti Nurul menolak poligami yang memang kerap dilakukan di jaman itu. Melakukan hal-hal yang bukan kebiasaan wanita jawa seperti berkuda, bermain tenis, berenang dan sebagainya.

Bayangkan, Gusti Nurul melakukan apa yang sekarang anda lakukan (kecuali internetan dan main BB, tentunya) di era tahun ’30an. Di masa itu, perempuan tidak sebebas sekarang. Perempuan sangat dibatasi oleh nilai-nilai yang memaksa wanita untuk mengalami domestikasi. Wanita dianggap sebagai makhluk lemah yang seharusnya hanya tinggal di rumah untuk merawat diri, melakukan pekerjaan rumah tangga dan mengurus suami. Hal ini terjadi terutama di kalangan bangsawan dimana wanita dianggap sebagai perhiasan rumah.

Hal inilah yang kemudian didobrak oleh Gusti Nurul. Beliau melakukan hal-hal yang tidak lazim dilakukan oleh perempuan di masa itu. Untuk anda, perempuan, yang setiap hari merasakan praktisnya jalan kesana kemari menggunakan celana dan bukan rok (atau bahkan kain!), bersyukurlah. Karena, untuk melakukan hal tersebut, Gusti Nurul harus melawan sebuah sistem sosial yang telah mengakar selama ratusan tahun. Menurut saya itu sama sekali bukan hal yang mudah.

Tidak mudah bagi seorang perempuan bangsawan, yang notabene adalah anak seorang raja, dimana ia dianggap sebagai ukuran nilai-nilai agung leluhur, untuk melakukan hal-hal yang dianggap bertentangan dengan nilai-nilai tersebut. Dalam bahasa psikologi, hal tersebut bisa menimbulkan kondisi disonan bagi publik yang melihatnya. Yaitu apa yang tampak tidak sesuai dengan yang diharapkan. Tentu saja di jaman itu seorang putri raja diharapkan untuk bersikap anggun, manut, dependen, pasif dan berbagai atribut sikap yang menunjukkan kejawaannya. Sebaliknya, Gusti Nurul justru bersikap mandiri, aktif, modern dan sportif yang di jaman itu bertentangan dengan sosok putri raja yang ada dalam bayangan publik.

Hal lain yang dijunjung oleh Gusti Nurul adalah bahwa perempuan tidak hanya sebuah objek melainkan juga subjek yang berkuasa atas dirinya dan mampu memutuskan untuk dirinya sendiri. Beliau menolak perjodohan yang dilakukan oleh ayahnya dan lebih memilih untuk mencari calon suaminya sendiri. Itupun beliau memiliki kriteria pribadi yang salah satunya adalah anti poligami. Hal yang membuat Gusti Nurul menolak keinginan Bung Karno untuk menikahinya meski sudah dikirimi surat cinta dalam 7 bahasa. Nasib Sultan HB IX juga tidak jauh berbeda, ditolak oleh Gusti Nurul dengan alasan yang sama. Gosipnya, Sultan HB IX tidak memiliki permaisuri dan hanya memiliki selir-selir saja karena kejadian ini.

Apakah kemudian Gusti Nurul menikahi orang yang keluarbiasaanya mengalahkan 2 orang luar biasa di itu? Tidak. Gusti Nurul justru menerima pinangan dari seorang perwira militer menengah yang biasa saja bernama Surjo Sularso. Usia beliau saat menikah telah menginjak 30 tahun. Usia yang tidak muda lagi untuk orang jawa masa itu yang kerap menikah di usia belasan. Di sini kita bisa melihat bahwa Gusti Nurul begitu menekankan kemampuan wanita untuk memberdayakan dirinya sendiri dan mengambil keputusan yang sesuai dengan dirinya sendiri serta melepaskan diri dari ikatan-ikatan nilai yang mungkin dianggap terlalu feodal.

Bukan hanya kisah cinta dari Gusti Nurul yang bisa kita ambil. Semangat beliau untuk berprestasi juga patut diacungi jempol. Tahun 1936, Gusti Nurul telah terbang ke negeri Belanda atas undangan Ratu Wilhelmina untuk merayakan hari ulang tahun ratu kerajaan Belanda tersebut. Artinya usia beliau kala itu masih 15 tahun.

Kisah perjalanan hidup Gusti Nurul tersebut bisa anda lihat dari deretan foto beliau di Museum Ullen Sentalu, Kaliurang, Sleman, Jogjakarta. Foto-foto itu dimulai saat kelahirannya di tahun 1921 hingga saat beliau menikah di tahun 1951. Dari foto-foto tersebut kita bisa mempelajari alur kehidupan seorang putri bangsawan termasuk ritual-ritual yang harus dilaluinya.

Jika anda ingin merasakannya anda bisa datang ke Museum Ullen Sentalu dan kunjungi Ruang Putri Dambaan. Dengarkan penjelasan dari tour-guide di sana dengan teliti. Sungguh, anda terutama kaum wanita, akan tahu apa yang disebut dengan emansipasi wanita yang sebenarnya dan bukan sekadar kebebasan yang kebablasan.

Ruang Gusti Nurul

Lukisan Yang Bisa Menatap Balik, Mistis atau Realistis?

Jika anda sempat ke Museum Ullen Sentalu, jangan lupa untuk memperhatikan sebuah lukisan yang dipajang di ruang Guwa Sela Giri. Dalam lukisan itu digambarkan seorang wanita mengenakan kebaya khas jawa dengan rambut berkonde itu duduk di atas sebuah kursi kayu. Perawakannya agak sedikit gemuk, mungkin berusia antara 40-50 tahun

Pertama kali melihat lukisan itu, saya terasa geli sendiri. Bukan kenapa-kenapa, tapi lukisan itu bisa menatap kemanapun arah saya melangkah. Belum lagi dengan sepatunya yang juga bisa mengarah ke arah saya membuat seakan-akan wanita yang dilukis itu dapat mengubah posisi duduknya.

Mengingat lokasi pemajangannya yang ada di ruang bawah tanah, lukisan itu jadi terkesan mistis. Namun, setelah mendengar penjelasan dari tour-guide yang menemani kami, sedikitnya kami jadi tidak terlalu takut lagi. Efek 3 dimensi yang muncul dalam lukisan itu, semata-mata hasil keahlian dari pelukisnya. Ia tidak menyebutkan secara jelas siapa pelukisnya, yang jelas seorang pelukis keraton yang memang ditugaskan untuk melukis untuk kepentingan raja.

Perasaan yang awalnya takut, berubah menjadi kagum. Ternyata Indonesia, menyimpan keahlian-keahlian yang selama ini tidak terekspos. Untunglah ada Museum Ullen Sentalu yang membuat kita memiliki akses terhadap karya-karya mereka.

Lukisan Yang Bisa Menatap Balik, Mistis atau Realistis?

Jika anda sempat ke Museum Ullen Sentalu, jangan lupa untuk memperhatikan sebuah lukisan yang dipajang di ruang Guwa Sela Giri. Dalam lukisan itu digambarkan seorang wanita mengenakan kebaya khas jawa dengan rambut berkonde itu duduk di atas sebuah kursi kayu. Perawakannya agak sedikit gemuk, mungkin berusia antara 40-50 tahun

Pertama kali melihat lukisan itu, saya terasa geli sendiri. Bukan kenapa-kenapa, tapi lukisan itu bisa menatap kemanapun arah saya melangkah. Belum lagi dengan sepatunya yang juga bisa mengarah ke arah saya membuat seakan-akan wanita yang dilukis itu dapat mengubah posisi duduknya.

Mengingat lokasi pemajangannya yang ada di ruang bawah tanah, lukisan itu jadi terkesan mistis. Namun, setelah mendengar penjelasan dari tour-guide yang menemani kami, sedikitnya kami jadi tidak terlalu takut lagi. Efek 3 dimensi yang muncul dalam lukisan itu, semata-mata hasil keahlian dari pelukisnya. Ia tidak menyebutkan secara jelas siapa pelukisnya, yang jelas seorang pelukis keraton yang memang ditugaskan untuk melukis untuk kepentingan raja.

Perasaan yang awalnya takut, berubah menjadi kagum. Ternyata Indonesia, menyimpan keahlian-keahlian yang selama ini tidak terekspos. Untunglah ada Museum Ullen Sentalu yang membuat kita memiliki akses terhadap karya-karya mereka.

Lukisan Yang Bisa Menatap Balik, Mistis atau Realistis?

Jika anda sempat ke Museum Ullen Sentalu, jangan lupa untuk memperhatikan sebuah lukisan yang dipajang di ruang Guwa Sela Giri. Dalam lukisan itu digambarkan seorang wanita mengenakan kebaya khas jawa dengan rambut berkonde itu duduk di atas sebuah kursi kayu. Perawakannya agak sedikit gemuk, mungkin berusia antara 40-50 tahun

Pertama kali melihat lukisan itu, saya terasa geli sendiri. Bukan kenapa-kenapa, tapi lukisan itu bisa menatap kemanapun arah saya melangkah. Belum lagi dengan sepatunya yang juga bisa mengarah ke arah saya membuat seakan-akan wanita yang dilukis itu dapat mengubah posisi duduknya.

Mengingat lokasi pemajangannya yang ada di ruang bawah tanah, lukisan itu jadi terkesan mistis. Namun, setelah mendengar penjelasan dari tour-guide yang menemani kami, sedikitnya kami jadi tidak terlalu takut lagi. Efek 3 dimensi yang muncul dalam lukisan itu, semata-mata hasil keahlian dari pelukisnya. Ia tidak menyebutkan secara jelas siapa pelukisnya, yang jelas seorang pelukis keraton yang memang ditugaskan untuk melukis untuk kepentingan raja.

Perasaan yang awalnya takut, berubah menjadi kagum. Ternyata Indonesia, menyimpan keahlian-keahlian yang selama ini tidak terekspos. Untunglah ada Museum Ullen Sentalu yang membuat kita memiliki akses terhadap karya-karya mereka.

Ruang di Museum Ullen Sentalu

Lobby Museum Ullen Sentalu

Museum Ullen Sentalu sudah memiliki beberapa ruang, yaitu Ruang Selamat Datang, Ruang Seni Tari dan Gamelan, Guwa Sela Giri, 5 ruangan di Kampung Kambang, Koridor Retja Landa, serta Ruang Budaya.

  1. Ruang Selamat Datang : Merupakan ruang penyambutan Tamu. Juga terdapat banner yang berisi latar belakang pendirian Museum Ullen Sentalu dan Arca Dewi Sri, simbol kesuburan.
  2. Ruang Seni Tari dan Gamelan : Dalam Ruangan ini terdapat seperangkat gamelan yang dihibahkan oleh salah seorang pangeran di Kasultanan Yogyakarta. Gamelan tersebut sempat dipergunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang orang dan pagelaran tari di keraton Yogyakarta. Selain itu juga terdapat beberapa lukisan tarian.
  3. Guwa Sela Giri : Berlokasi di bawah tanah untuk menyesuaikan dengan kontur tanah yang tidak rata. Ruang ini berupa lorong panjang yang merupakan perpaduan Sumur Gumuling Taman Sari dan gaya Gothic. Arsitektur Guwa Sela Giri didominasi dengan penggunaan material bangunan dari batu Merapi. Ruang ini memamerkan karya-karya lukis dokumentasi dari tokoh-tokoh yang mewakili figur 4 kraton Dinasti Mataram.
  4. Kampung Kambang : Merupakan areal yang berdiri di atas kolam air dengan bangunan berupa ruang-ruang di atasnya. Konsep areal ini diambil dari konsep Bale Kambang dan konsep Labirin. Terdiri dari 5 ruang :
    • Ruang Syair untuk Tineke : Ruang yang menampilkan syair-syair yang diambil dari buku kecil GRAj Koes Sapariyam (putri Sunan PB XI, Surakarta) dan ditemukan di suatu ruang di dalam Kaputren Kasunanan Surakarta. Syair-syair itu ditulis dari tahun 1939-1947, oleh para kerabat dan teman-teman GRAj Koes Sapariyam yang akrab dipanggil Tineke sebagai puisi-puisi kenangan. Melalui syair-syair tersebut terungkap kemampuan intelektual dalam seni sastra para putri di balik tembok kraton.
    • Royal Room Ratu Mas : Suatu ruang yang khusus dipersembahkan bagi Ratu Mas, permaisuri Sunan Paku Buwana X. Di ruang ini dipamerkan lukisan Ratu Mas, foto-foto beliau bersama Sunan serta putrinya, serta pernak-pernik kelengkapan beliau, seperti topi, kain batik, dodot pengantin, dodot putri, asesori, dll.
    • Ruang Batik Vorstendlanden : Menampilkan koleksi batik dari era Sultan HB VII – Sultan HB VIII dari Kraton Yogyakarta serta Sunan PB X hingga Sunan PB XII dari Surakarta. Melalui koleksi tersebut terlihat suatu proses seni dan daya kreasi masyarakat Jawa dalam menuangkan filosofi yang dianutnya melalui corak motif batik. Perpaduan keindahan seni batik dan makna-makna filosofis yang dikandungnya menguak suatu warisan budaya intangible yang sangat kaya.
    • Ruang Batik Pesisiran : Ruang ini melengkapi proses akulturasi budaya yang ada di Jawa. Dipamerkan kostum, yaitu keindahan bordir tangan dari kebaya-kebaya yang dikenakan kaum peranakan mulai jaman HB VII (1870-an) serta kain batik yang lebih kaya warna.
    • Ruang Putri Dambaan : Ruang ini dikatakan sebagai album hidup GRAy Siti Nurul Kusumawardhani, putri tunggal Mangkunegara VII dengan permaisuri GKR Timur. Ruang ini sangat istimewa karena terasa kedekatannya dengan Sang Tokoh, yang meresmikan sendiri Ruang Putri Dambaan tersebut pada ulang tahun ke-81 pada tahun 2002.
  5. Koridor Retja Landa : Merupakan museum outdoor yang memamerkan arca-arca dewa-dewi dari abad VIII-IX M. pada masa itu berkembang agama dan budaya Hindu Budha, sehingga ada pemujaan pada dewa-dewa yang diwujudkan dalam bentuk penyembahan pada arca-arca dewa tertentu.
  6. Ruang Budaya : Di ruang ini dipamerkan beberapa lukisan raja Mataram, lukisan serta patung dengan tata rias pengantin gaya Surakarta serta Yogyakarta.
  7. Sarana Pendukung:
    1. Taman : Selain bangunan fisik, areal Taman Kaswargan didominasi oleh hutan alami dan bagian-bagian taman yang menonjolkan atmosfer pegunungan. Pada bagian-bagian tertentu terdapat patung-patung yang menjadi museum outdoor.
    2. Beukenhof Restaurant : Rancang bangun Taman Kaswargan sebagai obyek wisata budaya dan alam tak terelakkan harus dilengkapi dengan sarana pendukung lain, seperti restaurant. Restaurant Beukenhof diambil dari bahasa Belanda yang berarti bangunan yang dikelilingi pohon-pohon, seperti yang dapat pengunjung nikmati di restaurant dengan bangunan yang dirancang bergaya arsitektur kolonial .
    3. Art Shop : Toko souvenir didirikan sebagai pendukung dalam unsur pariwisata kawasan Taman Kaswargan.

Salah Satu Gedung di Museum Ullen Sentalu

Larangan Foto di Ullen Sentalu, Memang Perlu

Sebenarnya larangan berfoto di ruang display Museum ini cukup mengesalkan pada awalnya. Bayangkan saja, di Musee Du Louvre Paris saja diperkenankan untuk mengambil foto atau berfoto-foto. Jadi saya sempat berpikir, kok, rasanya agak berlebihan jika di Ullen Sentalu justru peraturan dilarang berfoto atau memfoto itu diberlakukan. Terutama karena hal itu bertentangan dengan kebiasaan narsis orang Indonesia (ini hanya generalisasi saya yang tidak berdasar).

Kalau alasan pribadi saya adalah karena peraturan itu akan cukup mempersulit saya dan kelompok saya saat membuat laporan kunjungan karena kunjungan saya ini memang karena tugas kampus. Bayangkan bagaimana mendeskripsikan suatu tempat tanpa foto atau gambar apapun, cukup beresiko salah sambung agaknya. Tanpa gambar, bayangan yang ada di benak saya tentang tempat tersebut dan apa yang ada di benak pembaca bisa jauh berbeda. Alasan ini juga, kan, yang membuat para penggemar Harry Potter kecewa dengan filmnya? Buku atau tulisan adalah media yang bersifat theatre of mind, tergantung bayangan subjektif setiap orang. Jadi, jika divisualisasikan, bisa saja jadi berbeda dengan apa yang dibayangkan.

Sebagai contoh, sosok Gusti Nurul, seorang putri bangsawan Jawa yang anti poligami adalah salah satu daya tarik utama Museum Ullen Sentalu ini. Gusti Nurul adalah Putri raja yang sangat cantik dan ditaksir oleh banyak orang. Salah duanya adalah Bung Karno dan Sultan HB IX.

Kita kembali pada frase “Gusti Nurul sangat cantik”. Seperti apa Gusti Nurul yang anda bayangkan? Seperti Maudy Kusnaedi yang ayu? Seperti Ririn Dwi Ariani yang main film di Ada Apa Dengan Cinta? Atau jangan-jangan anda membayangkan Ibu Kartini? Tenang… Tanpa foto atau gambar yang bisa memperjelas, apapun yang anda bayangkan pasti benar karena, toh, itu adalah bentuk penarikan kesimpulan secara cepat yang memang bagian dari mekanisme pemikiran manusia. Seperti kata George Berkeley (1685-1753) “Esse Ist Percipi” atau Kebenaran adalah Persepsi. Jadi untuk sementara (sebelum anda berkesempatan melihat fotonya), apapun yang anda bayangkan tentang sosok Gusti Nurul pasti benar.

Argumen saya di atas terlihat masuk akal? Eits, jangan dulu ambil kesimpulan apa-apa jika anda belum pernah datang ke Ullen Sentalu dan mendengar penjelasan dari tour-guide di sana. Ada penjelasan yang cukup masuk akal dan cukup tidak masuk akal tentang peraturan dilarang memfoto dan berfoto itu.

Saya tidak akan menyuruh anda memilih karena, toh, saya tidak akan dengar anda bilang apa. Jadi secara sepihak saya akan memutuskan untuk mulai dari alasan yang cukup tidak masuk akal. Tapi sebelumnya, saya ingin anda paham bahwa tidak masuk akal (paling tidak di akal saya sendiri) tidak sama dengan tidak ada atau tidak benar. Karena, mungkin saja sesuatu yang tidak masuk akal bisa jadi ada dan benar. Well, alasan itu adalah karena dalam ruangan-ruangan itu terdapat putri-putri bangsawan jaman dulu (atau penghuni lain yang saya tidak tahu karena saya tidak bisa melihatnya) yang tak kasat mata.

Nah, benar kan? Pasti ada sebagian dari anda yang menganggap ini tidak cukup masuk akal. Tapi, kecuali anda cenayang atau superhero, saya yakin anda tidak akan mampu membuktikan bahwa hal itu memang keluar akal. Bagaimana membuktikan benar-salahnya sesuatu yang tidak bisa diukur? Jadi, saya tidak akan memperpanjang hal ini. Hanya saja, jika anda datang ke Ullen Sentalu, anda akan sangat MERASAKAN (sengaja saya buat kapital) bahwa budaya jawa adalah budaya yang sangat dekat dengan hal-hal yang berbau mistis.

Nah, sekarang giliran alasan yang cukup masuk akal. Begini, selain aroma mistis yang kental, Museum Ullen Sentalu adalah sebuah museum dinamis yang merupakan Living Museum. Sama seperti makhluk hidup, museum ini berubah-ubah setiap waktu. Jadi, jika 10 kali anda berkunjung kesana, bisa jadi anda akan melihat 10 kali susunan display artefak yang berbeda. Bukan makhluk gaib yang memindah-mindahkannya, melainkan petugas-petugas di sana yang secara rutin melakukan rotasi. (Jujur, jika ternyata benar makhluk-makhluk gaib yang memindah-mindahkan barang di sana, saya tidak akan pernah datang lagi!)

Apa hubungannya dengan larangan berfoto atau memfoto? Hubungannya ada pada suatu frase bahasa inggris “Experiencing Museum”. Ullen Sentalu adalah museum yang harus anda alami sendiri. Foto hanya bisa menggambarkan sedikit dari pengalaman mengunjungi Museum itu. Sekalipun anda melihat foto teman anda yang sempat berkunjung ke sana (yang pastinya tidak akan ada karena dilarang), anda tetap akan mengalami hal yang berbeda. Wajar, karena berbeda dengan museum lain, Museum Ullen Sentalu lebih menawarkan hal-hal yang intangible dari budaya jawa. Yaitu lebih menekankan pada bagaimana bangsawan jawa berpikir dan menjalani kehidupan mereka. Hal yang memang tidak dapat digambarkan lewat foto secara sempurna.

Jadi, saran saya, di luar apapun yang anda lihat dari foto-foto yang beredar di internet atau milik teman anda, anda harus mengalaminya sendiri. Experiencing Ullen Sentalu.