Larangan Foto di Ullen Sentalu, Memang Perlu

Sebenarnya larangan berfoto di ruang display Museum ini cukup mengesalkan pada awalnya. Bayangkan saja, di Musee Du Louvre Paris saja diperkenankan untuk mengambil foto atau berfoto-foto. Jadi saya sempat berpikir, kok, rasanya agak berlebihan jika di Ullen Sentalu justru peraturan dilarang berfoto atau memfoto itu diberlakukan. Terutama karena hal itu bertentangan dengan kebiasaan narsis orang Indonesia (ini hanya generalisasi saya yang tidak berdasar).

Kalau alasan pribadi saya adalah karena peraturan itu akan cukup mempersulit saya dan kelompok saya saat membuat laporan kunjungan karena kunjungan saya ini memang karena tugas kampus. Bayangkan bagaimana mendeskripsikan suatu tempat tanpa foto atau gambar apapun, cukup beresiko salah sambung agaknya. Tanpa gambar, bayangan yang ada di benak saya tentang tempat tersebut dan apa yang ada di benak pembaca bisa jauh berbeda. Alasan ini juga, kan, yang membuat para penggemar Harry Potter kecewa dengan filmnya? Buku atau tulisan adalah media yang bersifat theatre of mind, tergantung bayangan subjektif setiap orang. Jadi, jika divisualisasikan, bisa saja jadi berbeda dengan apa yang dibayangkan.

Sebagai contoh, sosok Gusti Nurul, seorang putri bangsawan Jawa yang anti poligami adalah salah satu daya tarik utama Museum Ullen Sentalu ini. Gusti Nurul adalah Putri raja yang sangat cantik dan ditaksir oleh banyak orang. Salah duanya adalah Bung Karno dan Sultan HB IX.

Kita kembali pada frase “Gusti Nurul sangat cantik”. Seperti apa Gusti Nurul yang anda bayangkan? Seperti Maudy Kusnaedi yang ayu? Seperti Ririn Dwi Ariani yang main film di Ada Apa Dengan Cinta? Atau jangan-jangan anda membayangkan Ibu Kartini? Tenang… Tanpa foto atau gambar yang bisa memperjelas, apapun yang anda bayangkan pasti benar karena, toh, itu adalah bentuk penarikan kesimpulan secara cepat yang memang bagian dari mekanisme pemikiran manusia. Seperti kata George Berkeley (1685-1753) “Esse Ist Percipi” atau Kebenaran adalah Persepsi. Jadi untuk sementara (sebelum anda berkesempatan melihat fotonya), apapun yang anda bayangkan tentang sosok Gusti Nurul pasti benar.

Argumen saya di atas terlihat masuk akal? Eits, jangan dulu ambil kesimpulan apa-apa jika anda belum pernah datang ke Ullen Sentalu dan mendengar penjelasan dari tour-guide di sana. Ada penjelasan yang cukup masuk akal dan cukup tidak masuk akal tentang peraturan dilarang memfoto dan berfoto itu.

Saya tidak akan menyuruh anda memilih karena, toh, saya tidak akan dengar anda bilang apa. Jadi secara sepihak saya akan memutuskan untuk mulai dari alasan yang cukup tidak masuk akal. Tapi sebelumnya, saya ingin anda paham bahwa tidak masuk akal (paling tidak di akal saya sendiri) tidak sama dengan tidak ada atau tidak benar. Karena, mungkin saja sesuatu yang tidak masuk akal bisa jadi ada dan benar. Well, alasan itu adalah karena dalam ruangan-ruangan itu terdapat putri-putri bangsawan jaman dulu (atau penghuni lain yang saya tidak tahu karena saya tidak bisa melihatnya) yang tak kasat mata.

Nah, benar kan? Pasti ada sebagian dari anda yang menganggap ini tidak cukup masuk akal. Tapi, kecuali anda cenayang atau superhero, saya yakin anda tidak akan mampu membuktikan bahwa hal itu memang keluar akal. Bagaimana membuktikan benar-salahnya sesuatu yang tidak bisa diukur? Jadi, saya tidak akan memperpanjang hal ini. Hanya saja, jika anda datang ke Ullen Sentalu, anda akan sangat MERASAKAN (sengaja saya buat kapital) bahwa budaya jawa adalah budaya yang sangat dekat dengan hal-hal yang berbau mistis.

Nah, sekarang giliran alasan yang cukup masuk akal. Begini, selain aroma mistis yang kental, Museum Ullen Sentalu adalah sebuah museum dinamis yang merupakan Living Museum. Sama seperti makhluk hidup, museum ini berubah-ubah setiap waktu. Jadi, jika 10 kali anda berkunjung kesana, bisa jadi anda akan melihat 10 kali susunan display artefak yang berbeda. Bukan makhluk gaib yang memindah-mindahkannya, melainkan petugas-petugas di sana yang secara rutin melakukan rotasi. (Jujur, jika ternyata benar makhluk-makhluk gaib yang memindah-mindahkan barang di sana, saya tidak akan pernah datang lagi!)

Apa hubungannya dengan larangan berfoto atau memfoto? Hubungannya ada pada suatu frase bahasa inggris “Experiencing Museum”. Ullen Sentalu adalah museum yang harus anda alami sendiri. Foto hanya bisa menggambarkan sedikit dari pengalaman mengunjungi Museum itu. Sekalipun anda melihat foto teman anda yang sempat berkunjung ke sana (yang pastinya tidak akan ada karena dilarang), anda tetap akan mengalami hal yang berbeda. Wajar, karena berbeda dengan museum lain, Museum Ullen Sentalu lebih menawarkan hal-hal yang intangible dari budaya jawa. Yaitu lebih menekankan pada bagaimana bangsawan jawa berpikir dan menjalani kehidupan mereka. Hal yang memang tidak dapat digambarkan lewat foto secara sempurna.

Jadi, saran saya, di luar apapun yang anda lihat dari foto-foto yang beredar di internet atau milik teman anda, anda harus mengalaminya sendiri. Experiencing Ullen Sentalu.

Advertisements

About seethatseethis
nice

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: