Gusti Nurul, Living Legend of Indonesian Woman Emancipation Movement

Wajah Gusti Nurul

Apa persamaan antara Adam Malik dengan Gusti Nurul? Keduanya diabadikan dalam Museum. Adam Malik dengan Museum Adam Malik-nya dan Gusti Nurul di Museum Ullen Sentalu.  Lantas, apa beda keduanya? Adam Malik telah wafat. Sedangkan Gusti Nurul masih hidup dan tinggal di Bandung.

Persamaan lain dari keduanya adalah mereka merupakan orang-orang yang banyak membawa perubahan positif pada bangsa Indonesia melalui tindakan-tindakan nyata yang mereka lakukan. Sayangnya, sosok Gusti Nurul bukanlah sosok yang cukup akrab di telinga orang Indonesia terutama anak mudanya. Padahal, keberanian Gusti Nurul untuk melakukan perubahan pada sistem patriarki khas jawa di jaman itu sangat patut dicontoh. Yaitu keberanian untuk mendobrak sistem agar bergerak ke arah yang positif. Gusti Nurul menolak poligami yang memang kerap dilakukan di jaman itu. Melakukan hal-hal yang bukan kebiasaan wanita jawa seperti berkuda, bermain tenis, berenang dan sebagainya.

Bayangkan, Gusti Nurul melakukan apa yang sekarang anda lakukan (kecuali internetan dan main BB, tentunya) di era tahun ’30an. Di masa itu, perempuan tidak sebebas sekarang. Perempuan sangat dibatasi oleh nilai-nilai yang memaksa wanita untuk mengalami domestikasi. Wanita dianggap sebagai makhluk lemah yang seharusnya hanya tinggal di rumah untuk merawat diri, melakukan pekerjaan rumah tangga dan mengurus suami. Hal ini terjadi terutama di kalangan bangsawan dimana wanita dianggap sebagai perhiasan rumah.

Hal inilah yang kemudian didobrak oleh Gusti Nurul. Beliau melakukan hal-hal yang tidak lazim dilakukan oleh perempuan di masa itu. Untuk anda, perempuan, yang setiap hari merasakan praktisnya jalan kesana kemari menggunakan celana dan bukan rok (atau bahkan kain!), bersyukurlah. Karena, untuk melakukan hal tersebut, Gusti Nurul harus melawan sebuah sistem sosial yang telah mengakar selama ratusan tahun. Menurut saya itu sama sekali bukan hal yang mudah.

Tidak mudah bagi seorang perempuan bangsawan, yang notabene adalah anak seorang raja, dimana ia dianggap sebagai ukuran nilai-nilai agung leluhur, untuk melakukan hal-hal yang dianggap bertentangan dengan nilai-nilai tersebut. Dalam bahasa psikologi, hal tersebut bisa menimbulkan kondisi disonan bagi publik yang melihatnya. Yaitu apa yang tampak tidak sesuai dengan yang diharapkan. Tentu saja di jaman itu seorang putri raja diharapkan untuk bersikap anggun, manut, dependen, pasif dan berbagai atribut sikap yang menunjukkan kejawaannya. Sebaliknya, Gusti Nurul justru bersikap mandiri, aktif, modern dan sportif yang di jaman itu bertentangan dengan sosok putri raja yang ada dalam bayangan publik.

Hal lain yang dijunjung oleh Gusti Nurul adalah bahwa perempuan tidak hanya sebuah objek melainkan juga subjek yang berkuasa atas dirinya dan mampu memutuskan untuk dirinya sendiri. Beliau menolak perjodohan yang dilakukan oleh ayahnya dan lebih memilih untuk mencari calon suaminya sendiri. Itupun beliau memiliki kriteria pribadi yang salah satunya adalah anti poligami. Hal yang membuat Gusti Nurul menolak keinginan Bung Karno untuk menikahinya meski sudah dikirimi surat cinta dalam 7 bahasa. Nasib Sultan HB IX juga tidak jauh berbeda, ditolak oleh Gusti Nurul dengan alasan yang sama. Gosipnya, Sultan HB IX tidak memiliki permaisuri dan hanya memiliki selir-selir saja karena kejadian ini.

Apakah kemudian Gusti Nurul menikahi orang yang keluarbiasaanya mengalahkan 2 orang luar biasa di itu? Tidak. Gusti Nurul justru menerima pinangan dari seorang perwira militer menengah yang biasa saja bernama Surjo Sularso. Usia beliau saat menikah telah menginjak 30 tahun. Usia yang tidak muda lagi untuk orang jawa masa itu yang kerap menikah di usia belasan. Di sini kita bisa melihat bahwa Gusti Nurul begitu menekankan kemampuan wanita untuk memberdayakan dirinya sendiri dan mengambil keputusan yang sesuai dengan dirinya sendiri serta melepaskan diri dari ikatan-ikatan nilai yang mungkin dianggap terlalu feodal.

Bukan hanya kisah cinta dari Gusti Nurul yang bisa kita ambil. Semangat beliau untuk berprestasi juga patut diacungi jempol. Tahun 1936, Gusti Nurul telah terbang ke negeri Belanda atas undangan Ratu Wilhelmina untuk merayakan hari ulang tahun ratu kerajaan Belanda tersebut. Artinya usia beliau kala itu masih 15 tahun.

Kisah perjalanan hidup Gusti Nurul tersebut bisa anda lihat dari deretan foto beliau di Museum Ullen Sentalu, Kaliurang, Sleman, Jogjakarta. Foto-foto itu dimulai saat kelahirannya di tahun 1921 hingga saat beliau menikah di tahun 1951. Dari foto-foto tersebut kita bisa mempelajari alur kehidupan seorang putri bangsawan termasuk ritual-ritual yang harus dilaluinya.

Jika anda ingin merasakannya anda bisa datang ke Museum Ullen Sentalu dan kunjungi Ruang Putri Dambaan. Dengarkan penjelasan dari tour-guide di sana dengan teliti. Sungguh, anda terutama kaum wanita, akan tahu apa yang disebut dengan emansipasi wanita yang sebenarnya dan bukan sekadar kebebasan yang kebablasan.

Ruang Gusti Nurul

Advertisements

About seethatseethis
nice

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: