Lukisan Yang Bisa Menatap Balik, Mistis atau Realistis?

Jika anda sempat ke Museum Ullen Sentalu, jangan lupa untuk memperhatikan sebuah lukisan yang dipajang di ruang Guwa Sela Giri. Dalam lukisan itu digambarkan seorang wanita mengenakan kebaya khas jawa dengan rambut berkonde itu duduk di atas sebuah kursi kayu. Perawakannya agak sedikit gemuk, mungkin berusia antara 40-50 tahun

Pertama kali melihat lukisan itu, saya terasa geli sendiri. Bukan kenapa-kenapa, tapi lukisan itu bisa menatap kemanapun arah saya melangkah. Belum lagi dengan sepatunya yang juga bisa mengarah ke arah saya membuat seakan-akan wanita yang dilukis itu dapat mengubah posisi duduknya.

Mengingat lokasi pemajangannya yang ada di ruang bawah tanah, lukisan itu jadi terkesan mistis. Namun, setelah mendengar penjelasan dari tour-guide yang menemani kami, sedikitnya kami jadi tidak terlalu takut lagi. Efek 3 dimensi yang muncul dalam lukisan itu, semata-mata hasil keahlian dari pelukisnya. Ia tidak menyebutkan secara jelas siapa pelukisnya, yang jelas seorang pelukis keraton yang memang ditugaskan untuk melukis untuk kepentingan raja.

Perasaan yang awalnya takut, berubah menjadi kagum. Ternyata Indonesia, menyimpan keahlian-keahlian yang selama ini tidak terekspos. Untunglah ada Museum Ullen Sentalu yang membuat kita memiliki akses terhadap karya-karya mereka.

Lukisan Yang Bisa Menatap Balik, Mistis atau Realistis?

Jika anda sempat ke Museum Ullen Sentalu, jangan lupa untuk memperhatikan sebuah lukisan yang dipajang di ruang Guwa Sela Giri. Dalam lukisan itu digambarkan seorang wanita mengenakan kebaya khas jawa dengan rambut berkonde itu duduk di atas sebuah kursi kayu. Perawakannya agak sedikit gemuk, mungkin berusia antara 40-50 tahun

Pertama kali melihat lukisan itu, saya terasa geli sendiri. Bukan kenapa-kenapa, tapi lukisan itu bisa menatap kemanapun arah saya melangkah. Belum lagi dengan sepatunya yang juga bisa mengarah ke arah saya membuat seakan-akan wanita yang dilukis itu dapat mengubah posisi duduknya.

Mengingat lokasi pemajangannya yang ada di ruang bawah tanah, lukisan itu jadi terkesan mistis. Namun, setelah mendengar penjelasan dari tour-guide yang menemani kami, sedikitnya kami jadi tidak terlalu takut lagi. Efek 3 dimensi yang muncul dalam lukisan itu, semata-mata hasil keahlian dari pelukisnya. Ia tidak menyebutkan secara jelas siapa pelukisnya, yang jelas seorang pelukis keraton yang memang ditugaskan untuk melukis untuk kepentingan raja.

Perasaan yang awalnya takut, berubah menjadi kagum. Ternyata Indonesia, menyimpan keahlian-keahlian yang selama ini tidak terekspos. Untunglah ada Museum Ullen Sentalu yang membuat kita memiliki akses terhadap karya-karya mereka.

Lukisan Yang Bisa Menatap Balik, Mistis atau Realistis?

Jika anda sempat ke Museum Ullen Sentalu, jangan lupa untuk memperhatikan sebuah lukisan yang dipajang di ruang Guwa Sela Giri. Dalam lukisan itu digambarkan seorang wanita mengenakan kebaya khas jawa dengan rambut berkonde itu duduk di atas sebuah kursi kayu. Perawakannya agak sedikit gemuk, mungkin berusia antara 40-50 tahun

Pertama kali melihat lukisan itu, saya terasa geli sendiri. Bukan kenapa-kenapa, tapi lukisan itu bisa menatap kemanapun arah saya melangkah. Belum lagi dengan sepatunya yang juga bisa mengarah ke arah saya membuat seakan-akan wanita yang dilukis itu dapat mengubah posisi duduknya.

Mengingat lokasi pemajangannya yang ada di ruang bawah tanah, lukisan itu jadi terkesan mistis. Namun, setelah mendengar penjelasan dari tour-guide yang menemani kami, sedikitnya kami jadi tidak terlalu takut lagi. Efek 3 dimensi yang muncul dalam lukisan itu, semata-mata hasil keahlian dari pelukisnya. Ia tidak menyebutkan secara jelas siapa pelukisnya, yang jelas seorang pelukis keraton yang memang ditugaskan untuk melukis untuk kepentingan raja.

Perasaan yang awalnya takut, berubah menjadi kagum. Ternyata Indonesia, menyimpan keahlian-keahlian yang selama ini tidak terekspos. Untunglah ada Museum Ullen Sentalu yang membuat kita memiliki akses terhadap karya-karya mereka.

Advertisements

Ruang di Museum Ullen Sentalu

Lobby Museum Ullen Sentalu

Museum Ullen Sentalu sudah memiliki beberapa ruang, yaitu Ruang Selamat Datang, Ruang Seni Tari dan Gamelan, Guwa Sela Giri, 5 ruangan di Kampung Kambang, Koridor Retja Landa, serta Ruang Budaya.

  1. Ruang Selamat Datang : Merupakan ruang penyambutan Tamu. Juga terdapat banner yang berisi latar belakang pendirian Museum Ullen Sentalu dan Arca Dewi Sri, simbol kesuburan.
  2. Ruang Seni Tari dan Gamelan : Dalam Ruangan ini terdapat seperangkat gamelan yang dihibahkan oleh salah seorang pangeran di Kasultanan Yogyakarta. Gamelan tersebut sempat dipergunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang orang dan pagelaran tari di keraton Yogyakarta. Selain itu juga terdapat beberapa lukisan tarian.
  3. Guwa Sela Giri : Berlokasi di bawah tanah untuk menyesuaikan dengan kontur tanah yang tidak rata. Ruang ini berupa lorong panjang yang merupakan perpaduan Sumur Gumuling Taman Sari dan gaya Gothic. Arsitektur Guwa Sela Giri didominasi dengan penggunaan material bangunan dari batu Merapi. Ruang ini memamerkan karya-karya lukis dokumentasi dari tokoh-tokoh yang mewakili figur 4 kraton Dinasti Mataram.
  4. Kampung Kambang : Merupakan areal yang berdiri di atas kolam air dengan bangunan berupa ruang-ruang di atasnya. Konsep areal ini diambil dari konsep Bale Kambang dan konsep Labirin. Terdiri dari 5 ruang :
    • Ruang Syair untuk Tineke : Ruang yang menampilkan syair-syair yang diambil dari buku kecil GRAj Koes Sapariyam (putri Sunan PB XI, Surakarta) dan ditemukan di suatu ruang di dalam Kaputren Kasunanan Surakarta. Syair-syair itu ditulis dari tahun 1939-1947, oleh para kerabat dan teman-teman GRAj Koes Sapariyam yang akrab dipanggil Tineke sebagai puisi-puisi kenangan. Melalui syair-syair tersebut terungkap kemampuan intelektual dalam seni sastra para putri di balik tembok kraton.
    • Royal Room Ratu Mas : Suatu ruang yang khusus dipersembahkan bagi Ratu Mas, permaisuri Sunan Paku Buwana X. Di ruang ini dipamerkan lukisan Ratu Mas, foto-foto beliau bersama Sunan serta putrinya, serta pernak-pernik kelengkapan beliau, seperti topi, kain batik, dodot pengantin, dodot putri, asesori, dll.
    • Ruang Batik Vorstendlanden : Menampilkan koleksi batik dari era Sultan HB VII – Sultan HB VIII dari Kraton Yogyakarta serta Sunan PB X hingga Sunan PB XII dari Surakarta. Melalui koleksi tersebut terlihat suatu proses seni dan daya kreasi masyarakat Jawa dalam menuangkan filosofi yang dianutnya melalui corak motif batik. Perpaduan keindahan seni batik dan makna-makna filosofis yang dikandungnya menguak suatu warisan budaya intangible yang sangat kaya.
    • Ruang Batik Pesisiran : Ruang ini melengkapi proses akulturasi budaya yang ada di Jawa. Dipamerkan kostum, yaitu keindahan bordir tangan dari kebaya-kebaya yang dikenakan kaum peranakan mulai jaman HB VII (1870-an) serta kain batik yang lebih kaya warna.
    • Ruang Putri Dambaan : Ruang ini dikatakan sebagai album hidup GRAy Siti Nurul Kusumawardhani, putri tunggal Mangkunegara VII dengan permaisuri GKR Timur. Ruang ini sangat istimewa karena terasa kedekatannya dengan Sang Tokoh, yang meresmikan sendiri Ruang Putri Dambaan tersebut pada ulang tahun ke-81 pada tahun 2002.
  5. Koridor Retja Landa : Merupakan museum outdoor yang memamerkan arca-arca dewa-dewi dari abad VIII-IX M. pada masa itu berkembang agama dan budaya Hindu Budha, sehingga ada pemujaan pada dewa-dewa yang diwujudkan dalam bentuk penyembahan pada arca-arca dewa tertentu.
  6. Ruang Budaya : Di ruang ini dipamerkan beberapa lukisan raja Mataram, lukisan serta patung dengan tata rias pengantin gaya Surakarta serta Yogyakarta.
  7. Sarana Pendukung:
    1. Taman : Selain bangunan fisik, areal Taman Kaswargan didominasi oleh hutan alami dan bagian-bagian taman yang menonjolkan atmosfer pegunungan. Pada bagian-bagian tertentu terdapat patung-patung yang menjadi museum outdoor.
    2. Beukenhof Restaurant : Rancang bangun Taman Kaswargan sebagai obyek wisata budaya dan alam tak terelakkan harus dilengkapi dengan sarana pendukung lain, seperti restaurant. Restaurant Beukenhof diambil dari bahasa Belanda yang berarti bangunan yang dikelilingi pohon-pohon, seperti yang dapat pengunjung nikmati di restaurant dengan bangunan yang dirancang bergaya arsitektur kolonial .
    3. Art Shop : Toko souvenir didirikan sebagai pendukung dalam unsur pariwisata kawasan Taman Kaswargan.

Salah Satu Gedung di Museum Ullen Sentalu